NUNUKAN

NUNUKAN
TO BLOG PURNA PASKIBRAKA INDONESIA KOTA NUNUKAN

Rabu, 26 Oktober 2011

Bisikan Maut


Aku terduduk merenung meratapi bulan dan bintang  di malam itu dan di temani oleh sunyinya malam,
Entah mengapa tiba” ada yang membisikkan kata” indah itu di telingaku , entah aku mimipi atau menghayal karna kebanyakan melamun atau apa yang pastinya bisikan itu seperti nyata dalam hidupku,
Suatu bisikan yang yang membuatku terlena akan kata” yang dia berikan dengan suaranya yang lembut walaupun sedikit aneh di pendengaranku saat malam itu.
Bisikanya cukup singakat tapi sangat memiliki arti , ia mengatakan,,,,,

“ kamu adalah manusia yang paling sempurna di dunia ini, hanya kamu lah yang bisa menemani aku sampai aku besar dan tumbuh nanti, kamu adalah pelita di kegelapan malam, dan hanya engkau yang dapat menerangi malamku”
Bisikan yang indah di malam itu,
Semua bisikan yang di bisikkan di telingaku adalah bisikan” pujian yang  membuatku ingin melayang hingga ke awan dan di temani oleh peri” malam......................!!!!    ( c Lat )

FOTO PASKIBRAKA 2011

 WAHH KERN DEH FOTO BARENG DGN PAK TENTARA
 YANG DI TENGAH ITU ANAK PASKIBRAKA DARI MANA??? HEHEHE
 BARU NAIK BIS YA???

 SANTAI DULU AHHHHH
 WAHHH GOSONG SEMUA .....HEHEHE

KUMPULAN FOTO PASKIBRAKA NUNUKAN 2008-2010

 MAU NYANYI NEE......
 CIEEE ,,,,KO FOTONYA CUMAN BEREMPAT??
 WAHHH, ANAK SMA 1 NUNUKAN EHH
 JADI IRI NEEE LIAT FOTONYA
 CANTIQNYA.....HEHEHE
 ASYIK DI JEMUR .....

 SERIUSNYA JUGA BIASA AJA DONG,.......
 AMBIL GAYA DONG QO TEGAP SEMUA???
 WAHHHH TELO NEEEE
 ASYIK FOTO BARENG DENGAN PAK POLISI
 EHHH PINDAH LAGI FOTO BARENG DENGAN TNI
 BIASA AJA DONG EXPRESINYA WAJAHNYA.....
 AYO??? LIAT APA TU??
 NAHHH INI BARU KERN
 WAHHH LEBAYNYA FOTONYA
 YANG DI TENGAH ORANG BERSEJARAH.....HEHEHE
 DANTON YANG CAKEPPPPPPP
 AYO SIAP-SIAP
 SANTAI AJA DONG........
 BEDOA DULU BARU JALAN.........
 FOTO BARENG DENGAN PEJABAT HUHUYYYYY
 WAHHH PASKIBRAKA KALTIM EHH

Selasa, 25 Oktober 2011

PENGORBANAN TANPA TANDA JASA

pengorbanan yang di berikan oleh para pemuda bangsa untuk mengibarkan bendera kususnya di perbatasan nunukan kurang di hargai oleh beberapa pihak, hal ini di rasakan oleh para pemuda bangsa kususnya daerah perbatasan yang memberikan pengorbanan mereka untuk nusa dan bangsa.  misalnya paskibraka nunukan saat ini yang belum merasakn honor mereka di karnakan belum adanya kejelasan dari pihak pemda selaku panitia pelaksana hari ulang tahun republik indonesia yang saat ini belum mencairkan honor dari pihak pelatih atau kordinator, saat di konfirmasi kordinator selaku pelatih paskibraka mengatakan saat ini belum ada kejelasan dari pihak pemda .

foto paskibraka 2011



 KUMPULAN FOTO PASKIBRAKA NUNUKAN DARI TAHUN KE TAHUN.












Senin, 24 Oktober 2011

SEJARAH

Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekamo memberi tugas kepada ajudannya,Mayor M. Husein Mutahar untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta

Pada saat itu, sebuah gagasan berkelebat di benak Mutahar. Alangkah baiknya bila persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilestarikan kepada generasi muda yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat itu. Pengibaran bendera pusaka bisa menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai perjuangan. Karena itu, para pemudalah yang harus mengibarkan bendera pusaka. Dari sanalah kemudian dibentuk kelompok-kelompok pengibar bendera pusaka, mulai dari lima orang pemuda - pemudi pada tahun 1946 yang menggambarkan Pancasila.

Namun, Mutahar mengimpikan bila kelak para pengibar bendera pusaka itu adalah pemuda-pemuda utusan dari seluruh daerah di Indonesia. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti "mendapat durian runtuh" karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia. tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 didatangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka. Sayang, belum seluruhnya provinsi bisa mengirimkan utusannya, sehingga pasukan pengibar bendera pusaka tahun itu masih harus ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.

Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerek Bendera Pusaka”. Nama, pada kurun waktu itu memang belum menjadi perhatian utama, karena yang terpenting tujuan mengibarkan bendera pusaka oleh para pemuda utusan daerah sudah menjadi kenyataan. Dalam mempersiapkan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka, Husein Mutahar sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) tentu tak dapat bekerja sendiri. Sejak akhir 1967, ia mendapatkan dukungan dari Drs Idik Sulaeman yang dipindahtugaskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dari Departemen Perindustrian dan Kerajinan) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan. Idik yang terkenal memiliki karakter kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Setelah melengkapi silabus latihan dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya. Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka menganggukkan kepala. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya. Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. ”Pas” berasal dari kata pasukan, ”kib” dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka. Idik yang sarjana senirupa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itupun juga segera memainkan kelentikan tangannya dalam membuat sketsa. Hasilnya, adalah berbagai atribut yang digunakan Paskibraka, mulai dari Lambang Anggota, Lambang Korps, Kendit Kecakapan sampai Tanda Pengukuhan (Lencana Merah-Putih Garuda/MPG). Nama Paskibraka dan atribut baru itulah yang dipakai sejak tahun 1973 sampai sekarang.  bagi para anggota Paskibraka, Purna (mantan) Paskibraka maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata Paskibraka telah menjadi sesuatu yang sakral dan penuh kebanggaan.

Memang pernah, suatu kali nama Paskibraka akan diganti, bahkan pasukannya pun akan dilikuidasi. Itu terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Republik Indonesia dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kata ”pusaka” yang ada dalam akronim Paskibraka dianggap Gus Dur mengandung makna ”klenik”. Untunglah, dengan perjuangan keras orang orang yang berperan besar dalam sejarah Paskibraka, akhirnya niat Gus Dur untuk melikuidasi Paskibraka dapat dicegah. Apalagi, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, pada pasal 4 jelas-jelas menyebutkan: (1) BENDERA PUSAKA adalah Bendera Kebangsaan yang digunakan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. (2) BENDERA PUSAKA hanya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus. (3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal 22 tidak berlaku bagi BENDERA PUSAKA. (Pasal 22: Apabila Bendera Kebangsaan dalam keadaan sedemikian rupa, hingga tak layak untuk dikibarkan lagi, maka bendera itu harus dihancurkan dengan mengingat kedudukannya, atau dibakar). Itu berati, bila Presiden ngotot mengubah nama Paskibraka, berarti dia melanggar PP No. 40 Tahun 1958. Presiden akhirnya tidak jadi membubarkan Paskibraka, tapi meminta namanya diganti menjadi ”Pasukan Pengibar Bendera Merah-Putih” saja. Hal ini di-iyakan saja, tapi dalam siaran televisi dan pemberitaan media massa, nama pasukan tak pernah diganti. Paskibraka yang telah menjalani kurun sejarah 32 tahun tetap seperti apa adanya, sampai akhirnya Gus Dur sendiri yang dilengserkan.